mellowtime

December 13th, 2007 by yaspatt

Setelah sekian lama ngga nulis blog, akhirnya hari ini gue memutuskan untuk nulis meskipun sebenernya ngga tau juga mau nulis apa. Gue lagi mellow banget akhir-akhir ini. Kalo gue merenungkan lagi semua yang terjadi dalam hidup gue belakangan ini, gue semakin sadar bahwa hidup ini ngga gampang, sangat ngga gampang malah, tetapi sebagai manusia kita betul-betul punya pilihan untuk menjadikan hidup kita gampang atau susah, berdasarkan apa tujuan kita. Hmm, ribet ya? Mari gue coba sederhanakan kenapa gue berpikir seperti itu.
Katakanlah soal skripsi (hmm…). Benda yang satu ini memang sedang jadi pergumulan berat gue di dalam hidup. Yang jadi problem utama gue dalam nyelesaiin skripsi bukan pada masalah kapasitas otak gue (sombong dikit boleh dong), tapi masalah-masalah yang gue alami rupanya berdampak pada kondisi emosi gue yang pada akhirnya berpengaruh pada pengerjaan skripsi gue, sehingga yang ada gue escape mulu dengan mengatakan bahwa “Tuhan menjadikan segala sesuatu indah pda waktunya.” Gue memang sangat berpegang teguh pada ayat ini, tapi yang ada gue malah menjadikan ayat ini defense mechanism gue dalam menghadapi tuntutan skripsi. Iya sih, Tuhan memang menjadikan segala sesuatu indah pada waktunya, tapi kalau kita sendiri ngga berusaha mewujudkannya ya ampe kapan tau juga ga bakalan bisa deh berhasil.
Di tengah-tengah kegalauan gue, beberapa waktu lalu gue iseng beres2 kamar dan gue menemukan satu boks yang isinya adalah berkas2 pramabim waktu gue baru masuk. Yang ada gue berhenti sejenak dan mengulik-ngulik kembali semua berkas tersebut. Ada surat-surat dari temen2, dari guardian angel, dari teman2 kelompok yang ngisi Johari’s window, dan bahkan gue masih nyimpen selempang yang diberikan ke gue ketika gue dinobatkan sebagai anak 2003 tergila. Hal ini memicu gue untuk meminjam film angkatan 2003 dari Iin. Ketika gue nonton film itu, yang ada gue terharu dan sempat menitikkan air mata. Betapa waktu itu terbang dengan cepat ya, betul2 ngga terasa bahwa gue sudah berada dipenghujung masa studi gue. Gue jadi mengingat2 kembali masa-masa kuliah dulu, semester-semester awal yang penuh kehebohan adaptasi dengan teman-teman, hang-out bersama, pokoknya menyenangkan. Kemudian masuk ke semester tengah-tengah yang sangat kompleks, di mana kemampuan asertivitas dan bergadang dan management waktu diuji secara penuh, belum lagi kemampuan public speaking yang diuji lewat presentasi2 di kelas yang bikin deg2an tapi asik, bikin tugas sampe bergadang2 dan nginep2an, oh whatta time!!! Gue sangat merindukan masa-masa itu dan rasanya akan sangat bersyukur kalo Tuhan bisa memberikan satu hariii aja kembali ke masa semester awal! Terus masuk ke peminatan sosial, berjuang bersama teman2 sekelas yaitu William, Felix, Ola, Nadya, dan gue jadi inget momen2 kami di Jogja, bikin tugas bersama, dan semua kegilaan kuliah lainny. Intinya cuma satu: GUE KANGEN MASA-MASA ITU.
Semua momen nostalgia ini berdampak lumayan bagus sepertinya. Di samping gue jadi mellow, gue jadi sadar betul bahwa teman2 gue itu banyak yang udah lulus dan emang butuh effort ekstra untuk bisa jadi sarjana, tapi somehow gue ngerasa hidup lagi dan terdorong untuk bikin skripsi, simply karena gue ngga mau ketinggalan lebih jauh aja. HUff, wish me luck.

aku mulai bingung

December 12th, 2006 by yaspatt

Saat ini gue merasa sedang berada di persimpangan lagi. Setelah dulu memutuskan untuk masuk peminatan sosial dan betah banget menjadi anak peminatan sosial, sekarang gue sadar bahwa ini adalah semester terakhir gue dan semester depan tinggal skripsi. Gila yah, betapa waktu itu terbang dan bukan lagi berjalan cepat. Gue mellow banget dan sekarang sadar bahwa tak akan ada lagi kelas peminatan sosial yang hanya berlima (Ol, Nad, Lix, Will, gue kangeeeeen kaliannn). Ngga ada lagi makan rujak di kelas, dateng telat, kuliah di cupncinno, dan terutama Jogjaaaa dan segala kenangan indah di dalamnya: kegilaan William, juteknya Nadya, afek datarnya Felix, gokilnya Ola, kocaknya Mas Ferdy… HUaaaa, I’m gonna miss those things a lottt.

Well, kesan yang ada selama belajar di bidang peminatan sosial adalah hidup itu kejam. Nyaris semua kenyataan sosial yang ada tuh bikin gue ngenes banget, mulai dari anak-anak gakin ypb yang meskipun lucu-lucu tapi kalau dilihat lagi backgroundnya yang miskin bikin gue ngenes, temen-temen di STIGMA (Magda, Stella, Wulan, Sisca, Bani, Anto, Heru, Ajat, Yana, Dwi, Toma, Rohili) yang perjuangannya begitu gigih dan hebat (gue angkat topi untuk kalian, teman-teman!) , pengalaman turlap sama Heru yang bikin ngenes juga. Mungkin hal-hal ini yang bikin gue jadi skeptis banget sama kenyataan sosial, dan gue semakin merasa ngga sanggup untuk kerja di bidang ini. Gue sadar bahwa ternyata gue makin insecure kalo harus berurusan dengan hal-hal ini, meskipun di satu sisi gue juga percaya bahwa suatu hari nanti masalah-masalah sosial ini akan bisa tertangani dengan baik. Gimana dong? Bingung… Sementara di sisi lain gue sangat suka bermain musik… Kayaknya damai dan ngga perlu pusing-pusing mikirin masalah sosial… Huhuhu… Aku bingung…

tentang lativi-pembantu sexy

June 22nd, 2006 by yaspatt

Tadi malem gue ngga bisa tidur. Aneh banget,
badan gue udah cape tapi mata dan otak gue masih terang dan ngga bisa diajak
kompromi untuk tidur. Akhirnya gue keluar kamar dan menyalakan tv. Gue pun
ganti-ganti channel, sampe akhirnya gue berhenti di Lativi. Acara tadi malem
itu gua lupa judulnya apa, tapi yang jelas dia ngebahas tentang “pembantu
seksi” (bukan pembantu seksi konsumsi atau seksi dokumentasi, tapi pembantu sexy) yang menggoda dan berselingkuh
dengan majikan (di sini tentu pembantunya perempuan dan majikannya laki-laki).
Awalnya, si presenter bilang bahwa fenomena ini cukup seru dan menarik untuk
dibahas karena banyak terjadi di Jakarta belakangan ini (gue hampir yakin ngga
ada data statistik yang akurat tentang berapa banyak pembantu yang punya affair
sama majikannya). Setelah ngalor-ngidur cerita tentang kemungkinan-kemungkinan
apa aja yang menyebabkan hal itu bisa terjadi, si presenter menayangkan
cuplikan wawancara sama pembantu yang memang punya affair sama majikannya. Si
pembantu ini cerita kalau dia bersedia selingkuh sama majikannya karena selain
pemenuhan kebutuhan biologis (ada pembantu yang janda), dia juga butuh uang
tambahan selain gaji. Kalau dia selingkuh pasti dia dibayar sama majikannya.
Selain itu, ada cuplikan wawancara dengan majikan, dan si majikan ini
mendeskripsikan kenapa dia bisa tergoda dengan pembantunya. Katanya, karena si
pembantu kalo lagi ngepel itu posenya cukup “mengundang”, terus kalo lagi
nyuguhin kopi juga pose si pembantu juga “mengundang”. Terus ada juga wawancara
dengan majikan perempuan yang pernah punya pembantu yang selingkuh dengan
suaminya, dan dia marah besar, lalu mengusir pembantunya ini. Tapi, dia ngga
marah sama suaminya. Katanya, “mungkin emang mas X (suaminya) lagi khilaf dan
saya kurang perhatian juga. Ini salah saya juga, kok.”. Terus mereka juga
mewawancara penyalur pembantu, gimana caranya menyeleksi pembantu yang genit
dan yang ngga genit, karena berbahaya untuk keluarga majikan. Si penyalur
pembantu menjawab, “ya mau gimana lagi. Saya ngga bisa ngontrol sedemikian
hebat juga. Ada yang emang genit, ada juga yang ngga genit tapi pas kerja jadi
genit. Tapi, yang saya tau sih ngga akan ada reaksi kalau ngga ada aksi.”
Kemudian si presenter bilang ke pemirsanya, “kalau begini, salahkan siapa?”

 Menyaksikan acara ini,
gue jadi mikir sendiri. Kalau ada perselingkuhan, berarti kan ada dua pihak
yang menghendaki itu terjadi. Dalam hal ini ya si majikan dan pembantu. Kalau
ditanya siapa yang salah, menurut gua ngga ada yang bisa disalahkan secara
mutlak, karena setiap pihak pasti punya kontribusi sendiri-sendiri sampai bisa
ada perselingkuhan. Kenapa si majikan pria sampai tergoda dengan pembantunya?
Kenapa si pembantu musti berpakaian seksi dan menggoda majikan? Bukankah yang
memutuskan akan tergoda/menggoda atau ngga itu pikiran kita sendiri? Kenapa
juga si istri marahnya ama pembantu dan mengusir pembantu, tapi ngga marah ama
suaminya padahal udah jelas suaminya berselingkuh? Kenapa pihak lativi musti
nanya ke penyalur pembantu cara menyeleksi pembantu yang genit apa ngga?
Emangnya tanggung jawab penyalur itu apa sih sampe musti ngurusin tingkat
kegenitan pembantu? Lagian emangnya setiap pembantu yang berselingkuh itu
penampilannya selalu pake baju seksi?

Satu hal penting yang perlu diingat: It’s
us who decide whether we’re going to do something or not. That’s the power of
human mind. We received stimulus, we perceive them, we deal with our needs and
wants, we deal with our values, and then we decide what kind of action we’ll do
in order to response the stimulus. It’s
the nature of human being to react when there’s a stimulus, but somehow it is
us who decide how we react to the stimulus.

Dengan kata lain, kita yang memutuskan untuk
bereaksi atau ngga, kan? Tentu saja keputusan ini diambil setelah melalui proses-proses
mental yang belum tentu kita sadari. Si majikan pria ketika melihat pembantu
yang seksi, sebetulnya dia punya pilihan, apakah mau menolak untuk bereaksi dan
cuek aja dengan kondisi pembantu yang kayak gitu, atau malah memanfaatkan
pembantu sebagai pengganti istrinya sehingga akhirnya terjadilah
perselingkuhan. Si pembantu pun begitu, dia sangat punya hak untuk menolak
majikannya tetapi pasti ada pertimbangan-pertimbangan tertentu yang diambil
sehingga dia juga memutuskan untuk berselingkuh, bisa aja emang dia ngga punya
baju yang ngga seksi, dan sebagainya. Si istri, bisa aja dia marah sama
suaminya karena emang suaminya pikirannya kotor sampe selingkuh, tapi dengan
pertimbangan tertentu juga dia malah marah sama pembantunya kemudian mengusirnya.

Satu hal yang terpikir, ada yang salah
dengan moral bangsa kita. Perilaku si presenter yang menanyakan kepada penyalur
pembantu menurut gue merupakan cerminan bahwa memang pihak yang lemah akan
selalu dimarjinalkan. Kenapa juga si presenter musti “menyalahkan” si pembantu
karena genit, dan bukan si majikan yang otaknya “kotor” melihat pembantu seksi
langsung di”samber? Memang sih, pada akhirnya kalu mau main salah-salahan
begini kan setiap pihak punya kontribusi “kesalahannya” masing-masing,
tergantung kita ngelihatnya dari segi apa. Tapi yang pasti, si lativi ngga adil
kalo dia hanya menyalahkan pembantu yang genit aja. Well, akhirnya gue ngantuk
dan memutuskan untuk tidur sekarang.

donor membawa sengsara

June 12th, 2006 by yaspatt

seumur hidup gue gue baru pernah dua kali ikutan donor darah dan dua-duanya ngga beres. gue inget pengalaman donor darah tahun lalu, pas gue pertama kali jadi donor di kampus Unika Atmajaya tercinta. Gue inget banget, tahun lalu itu karena gue donor pertama kali, gue takut banget, apa lagi ngeliat darah yang diambil sekantong gitu. karena gue takut, maka tensi darah gue pun naik, dan gue keringet dingin. Pas gue nanya ke dokternya, "Dok, tensi saya kaya gini emang ngga pa-pa ya kalo darah saya diambil?", eh dokternya menjawab dengan ekspresi datar, "ya kamu ati-ati aja.". Tapi karena udah kepalang tanggung ya gue bablas aja donor. untung gue ngga pingsan tuh setelah donor (bayangin aja kalo gue pingsan, semacam tu orang-orang pmi mau ngangkat gue aja. huh!). abis donor kan disuruh makan mie rebus pake telor rebus yang bulet utuh (gue heran, udah mie kok pake telor, kan mie itu dibuat dari 12 telor), terus minumannya susu coklat!! berhubung gue takut pingsan, gue embat aja. terus dengan sukses gue muntah deh. kacau khan!

nah, hari minggu kemaren gue tugas jam 9 pagi di gereja. hari itu lumayan rame, dan ternyata ada donor darah, terus ada beberapa orang yang ngajakin donor darah. gue pikir, toh udah setahun ngga donor, kenapa juga ngga ikut? akhirnya gue memutuskan untuk ikut donor. tapi dasar gue serem liat jarum, gue langsung deg-degan dan keringet dingin (padahal ruangannya ber-ac). pas di tensi, bener dah tensi gue naik lagi. gue tanya (kali ini dokternya beda), "Dok, saya bener ngga pa-pa nih jadi donor tapi tensinya tinggi?", terus dia jawab, "ya ngga pa-pa kok, ini mah ngga terlalu tinggi. karena mbak tegang aja kali makanya tensinya naik." Akhirnya gue bisa tenang dan nunggu giliran. Tibalah saatnya darah gue diambil.

Suster yang bertugas nyuruh gue tiduran dan rileks. terus dia mulai nyiapin alat-alat dan nanya, dulu tangan mana yang dipake untuk ambil darah. gue jawab, tangan kanan. gue ngga tau ini ada pengaruhnya apa ngga, tapi si suster tetep menusukkan jarum besar itu ke tangan kiri gue. Pas udah diambil setengah kantong, tiba-tiba dia bilang darah gue mengental di selang dan harus stop karena sama aja kalo dipaksa untuk diteruskan hanya akan menyakiti gue, JADI HARUS PINDAH KE TANGAN YANG LAIN. Ya udah, gue pindah tempat tidur dan bersiap-siap untuk ditusuk lagi. Sumpah, gue takut banget. Kemudian gue merasakan jarum besar itu disuntik lagi dan suster ini neken2 tangan gue yang dimasukkin jarum, sehingga sakitnya terasa banget. Gue bisa ngerasain daging gue neken2 tu jarum. Mengalirlah keringat gue karena sakitnya amit2, dan tau-tau ni suster manggil dokter dan bilang, "Dok, tolongin dong. Ini susah banget dapet venanya.". Duh, gue tau sih lapisan pelindung vena gue itu tebel banget dengan lemak, cuman tahun lalu ngga ada masalah, gitu. Terus si dokter mendatangi gue dan megan tangan gue bentaran, terus dia bilang ke suster, "Ah, gimana sih kamu. Ini gede banget venanya sebelah sini (menunjuk ke 1 cm di samping daerah jarum itu disuntik di tangan gue)." Dan yang terjadi adalah, si dokter MENCABUT JARUM YANG UDAH DITUSUKKIN DAN MENUSUKKANNYA KE DAERAH YANG DIA BILANG VENANYA TEBEL ITU TADI." Gue bener2 keringet dingin karena sakit dan takut waktu itu. Untung setelah itu darah gue lancar dan langsung bisa diambil. Tapi yang pasti, kelar donor darah gue keluar dengan 3 bekas tusukan. Canggih ngga tuh PMI. Dan sorenya bekas suntikan di tangan kiri gue bengkak, jadi harus gue kompres pake alkohol. yah, hidup donor darah!

my first blog

June 2nd, 2006 by yaspatt

setelah sekian tahun, ini adalah blog pertama gue di friendster. kasian amat yak gue. satu hal yang sedang gue pikirin saat ini, ternyata waktu cepat sekali berlalu yah. tiba-tiba aja gue udah semester 6 dan bentar lagi semester 7. fiuh.